Contents

Ceremai - 2024

Udah lama aku ga naik gunung. Terakhir kesana, badanku remuk, juga dengan hati. Nyari apasih?

Ini cerita dari orang yang lagi sibuk ngelem, bukan ngelem yang itu, tapi ngelem pecahan rasa yang lagi pecah setelah bertubi-tubi ditusuk keadaan. Yah klasik lah, orang lagi berdera larinya ke ketinggian dingin durja.

Informasi Umum

Informasi Keterangan
Nama Gunung & Jalur Gunug Ceremai via Apuy
Ketinggian & Prominence 3.078 m (2.792 m)
Lokasi Provinsi Jawa Barat
Pengelola Balai Taman Nasional Gunung Ciremai Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan

Penilaian Gunung

Parameter Keterangan / Nilai
Kemudahan Akses 5 / 10 - Harus ke Bekasi untuk bus Primajasa, tidak ada transum lokal, butuh ojek/mobil bak untuk mencapai basecamp sejauh 1 jam perjalanan
Ketersediaan Air 0 / 10 - Gunung benar-benar kering kecuali di Goa Wallet, wajib bawa semua kebutuhan air dari basecamp
Ketersediaan Ojek 5 / 10 - Lebih bergantung pada sewa mobil bak barengan agar hemat biaya
Keindahan Pemandangan Puncak 8 / 10 - Kawah yang besar dan mencolok, poin dikurangi karena jarak dari gunung tinggi lain yang cukup jauh
Keindahan Sabana / Padang Rumput 1 / 10 - Tidak ada sabana, hanya tanah dan vegetasi rumput yang terbatas dan bebatuan ketika mendekati puncak
Keamanan & Toleransi Jalur 5 / 10 - Tanjakan terjal terus-menerus, jalur yang relatif pendek & tidak ada bagian ektsrim
Kualitas Basecamp 4 / 10 - Dioperasikan oleh warga sekitar dalam bentuk “homestay”. Fasilitas dan servis cukup lengkap, bisa koordinasi dengan pemilik untuk melewati batasan minimal pendakian

Rincian Biaya

Item Pengeluaran Biaya
Gojek (Rumah ke Stasiun) Rp18.000 (10k + 8k)
KRL (PP) Rp10.000 (2x 5k)
Transport Terminal ke Pos Simaksi (PP) Rp200.000 (Sewa mobil bak, bayar per orang jika ada barengan)
Bus Primajasa (PP) Rp171.000 (78k + 93k - beda kelas bus)
Makan di Pos Simaksi Rp34.000 (2x 17k)
Tiket Simaksi Rp125.000 (Bisa lebih mahal untuk WNA)
Total Pengeluaran Rp558.000 (Belum termasuk logistik)

Logistik & Kontak Penting

Kategori Informasi Penting
Kontak Mobil Bak & Basecamp - Pak Ojan: 081573216372 / 082130425008 - Pak Agus: 08112282117
Ketentuan Simaksi Online Minimal pendaftaran 4 orang yang bisa dibeli online, tidak bisa daftar solo secara mandiri.
Solusi Pendaki Solo Simaksi dan akomodasi menginap (bayar seikhlasnya) akan dibantu dan diurus oleh pemilik mobil bak/basecamp warga.
Transportasi Bus Keberangkatan dari Terminal Bekasi menggunakan PO Primajasa langsung menuju Majalengka. Tiket tidak perlu pesan, langsung bayar di atas bus.

Sabtu, 21 Desember 2024

Kenapa Ceremai

Udah nyiapin perjalanan ini berminggu-minggu sebelumnya, udah pesen berbagai peralatan yang aku butuhin termasuk sepatu keren ini (it sucks) dan menuhin tas gede 70 liter (nyesel kemudian).

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-30_hu_63ea7f8007f1ed58.webp

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-31_hu_e5b8ca578d9dd17d.webp

Ini adalah tas yang aku pakai di pendakian Pangrango tahun 2019. Setelah 5 tahun ngga berada di ketinggian, aku sangat menantikan pendakian ini sih. Udah lama juga ngerancanain ke Ceremai, covid udah lama lewat, aku pikir ya ini saatnya.

Jakarta ke Majalengka

Sore itu aku masih ngecekin lagi logistik dan peralatan yang mau aku bawa. Mastiin baterai sudah terisi penuh, aku membawa tas ku yang kini beratnya 20 KG menggantung di punggung. Layar HP aku buka, memanggil kurir manusia lewat awan untuk nganterin aku ke transum favoritku, Stasiun Rawa Buaya.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-32_hu_b9069fb5e32568b6.webp

Ga lama ketika gulungan kuda besi itu mampir dan menjemput diri. Beberapa lama hingga di Stasiun Duri, aku melipir, mencari tuju yang baru dan singgah di Stasiun Bekasi Timur. Perjalanan yang cukup aku suka, transum selalu aku suka. Tarif yang murah membawaku berkilometer jauhnya, hanya dengan Rp 5000 -kala itu.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-36_hu_b06ab0b9da490fe2.webp

Ga lupa aku menyempatkan diri mengisi perut tepat di depan Stasiun, ada warung sederhana dengan suguhan yang tak kalah dengan resto mahal sekalipun. Aku masih ingat sambelnya yang pedas, dan hangat sotonya ketika mengisi perutku yang lapar -yang dihargai Rp 15.000

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-33_hu_565a356a432c2731.webp

Selesai puaskan lapar, aku berjalan keluar dari Stasiun, mencari transum berikutnya, transum yang bakal temani aku di banyak waktu berikutnya. Ini adalah Bus dari PO Primajasa yang melayani rute Bekasi-Majalengka-Cikijing.

Kamu harus tau kalau sampai terlalu malem disini dan kamu bakal dipaksa untuk berangkat ke Majalengka esok paginya. Sebisa mungkin ga lebih dari pukul 19:00 malam ya..

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-37_hu_d8002cd29e0bdaeb.webp

Butuh waktu 4 jam dari Bekasi untuk sampai di Majalengka, dengan tarif Rp 78.000. Kalau ditanya mau turun dimana, kamu cukup bilang untuk berhenti di Terminal Maja di Majalengka, sebuah destinasi kecil dimana kamu bakal melipir dan tergelincir ke basecamp.

Perkemahan Utama

Sesampainya di Majalengka, aku mampir dulu ke Indomaret setelah mendengar Ojek ke basecamp seharga Rp 70.000 atau Rp 100.000 jika kamu mau langsung ke Pos Pendaftaran. Ga lama, ada bapak-bapak yang nyamperin aku ke Indomaret, dia ngasih tau kalau aku bisa bareng rombongan dua orang lain dari Bekasi. Awalnya masih belum jelas berapa harga yang dia patok, tapi aku akhirnya tau kalau itu adalah Rp 600.000 dibagi 3 oang termasuk aku, seandainya peserta lebih banyak, harusnya bisa lebih murah. Tapi aku pikir oke saja, karena tarif ini termasuk perjalanan dari basecamp ke Pos Pendaftaran yang ternyata lumayan jauh.

Oh dan siapa sangka kalau perjalanan ke basecamp lumayan makan waktu. Sekitar 10 kilometer, melewati kampung-kampung dan kebun warga di gelap malam, di jalan yang aku ga yakin sang supir bisa melihat aspalnya. Aku masih inget banget gimana nanjaknya jalan menuju Desa Argamukti waktu itu.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-38_hu_e81b0514bff97806.webp


Pagi menjemput dengan cepat, kami udah siap dengan badan yang segar setelah tidur nyenyak semalam. Rumah Singgah milik Bapak Ojan ternyata cukup nyaman dan luas, fasilitas kamar mandi juga cukup oke. Kalau kalian mau sekedar jajan atau ngisi perut disini juga bisa. Internet WiFi pun juga disediakan karena sinyal mobile yang emang masih cukup buruk.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-39_hu_8218bda8f0aa241d.webp

Berangkat pukul 7 pagi, kita diantar ke Pos Pendaftaran, cuman kami bertiga. Sepertinya musim hujan di akhir desember bukan waktu favorit pendaki untuk naik Ceremai.

Menuju Pos Pendaftaran Berod bukan hal yang mudah. Melewati sawah dan perkebunan warga di lereng gunung Ceremai yang curam dan sempit, menaiki mobil bak dengan torsi yang luar biasa tinggi.

Udara yang sejuk, tentu saja ngingetin aku ke pendakian Pangrango pada tahun 2019. Bedanya, kali ini aku berangkat sendiri, dengan nestapa yang masih mengiris hati, kenapa sih?. Ga kok, cuman lagi melamun, dan gak lama ketika Berod dan banyak warungnya tampak di depan mata.

Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi

Rp 125.000, itu yang aku bayarkan ke Bapak Ojan, yang nantinya sebagian akan disalurkan ke Pos Pendaftaran, sebagai bentuk kepatuhanku -seorang pendaki- pada Taman Nasional Gunung Ceremai, selaku pengelola kawasan ini. Dari sejumlah uang itu, kita juga berhak untuk mendapatkan tiket untuk sebungkus nasi yang bisa ditukar di banyak warung disini.

Sepiring nasi panas, telur dadar renyah, tahu tempe yang masih hangat dan sejumput sambal nikmat, adalah sarapan yang ngasih badan tenaga di pagi ini, sebelum kami memulai pendakian.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-40_hu_525bfe166f69b528.webp

Langkah Awal yang Pasti

Dari Pos Berod, jalur masih cukup nyaman. Hutan yang rapat dengan banyak awan menggantung diatas ngasih atmosfer gelap yang susah dilupakan. Ancaman hujan terlihat begitu nyata, pikirku.

20 kilogram yang ada di punggung, sebenarnya diluar batas apa yang bisa kujalani, tapi langkah awal ini ditopang oleh semangat yang begitu berapi. Aku seneng banget akhirnya bisa menjejakkan langkah lagi di hutan, setelah bertahun di hutan kota.

Dari pukul 10, aku tiba di Pos 1 Arban dengan semangat yang masih menyala -sekitar 40 menit kemudian. Belum benar terasa capek yang kurasakan. Saung kecil ini begitu menawan di tengah hutan ini, tapi aku ga mampir dan terus berjalan.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-41_hu_16abd3ff350988f5.webp

Tanah yang terlihat masih basah begitu enak untuk diinjak, hingga ga lama kemudian aku sampai di Pos 2 Tegal Pasang. Pukul 12 siang, ketika kutengok jam di tangan. Berjalan disini, jam segini, sepertinya ga begitu mencerminkan waktu yang aku liat di tangan, karena langit yang makin gelap dan hutan yang kian merapat.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-42_hu_5012bc6b43320205.webp

Ketika aku berjalan lagi, disinilah ujian itu datang menyambutku hangat.

Lampaui Batas dan Belajar, Sadar, Gak Wajar

Di pertengahan jalan menuju Pos 3, akhirnya awan bergulung itu menyerah. Melontarkan beban yang udah dia bawa sedari tadi, dalam bentuk hujan yang begitu keras menghantamku. Dengan berat hati aku keluarin jas hujan. Diatas jalur pendakian yang makin miring, dengan banyaknya akar-akaran dan tangga alami, air dari langit ini bener-bener nguji fisik orang yang udah 5 tahun ga kehutan. Payah, aku pikir begitu.

Butuh 1 jam 12 menit untuk ke Pos 3. Ga mudah, ga disangka, ini yang aku bakal terus hadapi sampai Pos 5 nanti? Gila.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-43_hu_316d32cc863f3406.webp

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-44_hu_7229c27776090f25.webp

1 jam 30 menit, menyusuri hutan gelap dibawah gerimis, dengan kaki yang lepuh, rasa capai yang merasuk ke tiap sendi, aku sampai di Pos 4 Tegal Jamuju.

Dingin udah gabisa disangkal lagi, aku rebahkan tas gede ini -bersender di sebelah pohon gede yang melintang di pinggir Pos 4. Langsung saja kuraih isinya dan nyalain kompor, memasak satu Bubur Kimbo, berharap sekedar melepas rasa capek dan lapar yang ga tertahankan.

Lagi-lagi hutan masih terlihat gelap, vegetasi yang rapat, tapi paling ngga sedikit cahaya merasuk diantara rapat pohon itu. Aku tersenyum, dengan sendok yang penuh bubur hangat ini. Sesuap yang melegakan tenggorokan, di sekitar dingin yang luar biasa, sesuap yang meringankan lelah.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-45_hu_7d736c19f4d3e2b6.webp

Dari Pos 4 pun, rangkaian akar sama sekali ga melunak, tanjakan miring masih sama galak. Sesekali aku terduduk, diatas cabang yang runtuh dan kabut yang perlahan turun kembali.

1 jam dan 15 menit, itu adalah lamanya aku sampai dari Pos 4 ke Pos 5 Bayangan. Wilayah yang kerap akan padatnya lalu lintas babi. Dari sini sebenarnya Pos 5 Samhyang Rangkah sudah begitu dekat, tapi jika disana udah penuh, kamu bisa dirikan tenda disini.

Syarat mutlak untuk mendirikan tenda di Ceremai adalah, gantung sampah dan makanan kamu di pohon.

Tepat pukul 17:23, aku sampai juga di Pos 5 Sanghyang Rangkah, dengan energi yang sama sekali terkuras, dan kaki yang rasanya ingin meranggas.

Kabut udah tebal banget, udara yang dingin membekap tubuh yang lelah. Dengan sisa tenaga yang ada, aku ngediriin tenda. Selesai denganb tenda, aku nyalain kompor, membakar air untuk hangatkan tubuh. Bubur kimbo yang berat itu aku panaskan. Mengecap sesuapnya sedikit melegakan aku, dengan potongan renang yang tadi aku goreng. Oke, hari ini aku selamat, gumamku.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-49_hu_f48555a5924912d9.webp

Aku tersenyum aja sih, suasana seperti yang udah lama aku dambakan. Bayangin aja, dari 2019 ke 2024, itu ga sebentar. Udara dingin emang ga pernah bikin bosen. Angan dan obrolan ke Ceremai, dan detik ini juga aku berada di pangkuannya? Seru banget. Ga masalah kalau emang secapek ini, gapapa kalau emang aku sendirian di tenda.

Pergaulan Arah Pucuk

Pukul 3 pagi aku kebangun dengan suara khas babi hutan yang lapar. Untung ga kenapa-napa sih, sampah udan logistik aku udah tergantung diluar. Tapi tenda yang agak jauh ga selamat karena aku dengar pemiliknya berteriak minta tolong.

Setelah babi itu pergi, aku siapin makanan dan minuman hangat untuk bekal ku summit attack nanti. Menu masih sama dengan kemarin malem, bubur kimbo dengan rendang instant dan teh panas.

Pukul 04.16 aku berangkay summit, sendirian, di hutan yang gelap. Jalurnya enak kok, tapi aku yakin kiri kanan ku ini jurang, meskipun bukan setapak yang sempit, mikirinnya agak merinding juga ya, padahal ga keliatan karena begitu gelap.

Pukul 05.05 aku nyampai di pertemuan antara jalur Apuy dan jalur Palutungan. Cakrawala yang merah menghiasi langit Jawa Barat yang berat dengan awan yang menggantung lesu diatapnya.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-51_hu_d28040c53a73b4c8.webp

Dari situ aku terus jalan, trek yang awalnya adalah tanah empuk dan rumput pendek, makin lama berganti jadi batu-batu cadas keras yang bikin kaki memelas.

Pukul 05.33 aku nyampe di Goa Wallet. Tapi disini aku skip dulu, mungkin nanti kalau udah turun mau mampir. Tapi dari sini juga udah bisa kok dilihat dari atas.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-52_hu_b4b17b9f0f13ac2a.webp

Dari Gua Wallet jarak ke puncak memang sudah semakin dekat, tapi bukan berarti makin memudah, yang ada adalah saraf dan otot yang makin keras dalam serapah, ketika mata liat dengan jelas berbatuan besar keras curam dan licin menyambut tiap jejak yang aku tapakkan.

Rasa jenuh menghujam hati, tapi aku ingat kalau ini adalah salah satu mimpiku, dari sana aku ga pernah berhenti.Jalanku memang lambat, penuh dengan erangan tubuh yang sudah berada dibatas tertingginya. Tapi aku terus menjejak tanpa henti, ga peduli kabut yang makin tebal, ancaman hujan di bulan Desember yang nyata atau suhu dingin yang mnggaruk tulang.

3078 MDPL

Tepat pada pukul 06.24, aku menginjakkan kaki ku diatas puncak gunung Ceremai. Sungguh momen yang ga pernah aku lupain. Aku bener-bener ga nyangka bisa sampai disini.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-53_hu_bf3929c168791a13.webp

Tembok kabut tebal menyelimuti puncak, angin deras menghembus badanku, memaksaku untuk bertahan di udara yang dingin di ketinggian ini. Setelah beberapa lama di puncak, mengambil beberapa foto diri dan pemandangan kabut putih pekat, aku turun kembali membawa bahagia dan rasa kebebasan yang sudah lama aku rindukan.

Gua Wallet

Kalau kamu mau pengen ke Gua Wallet, kamu musti turun sekitar 50 meter kebawah. Hati-hati ya karena agak licin kalau musim hujan.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-54_hu_e1b32fb58309457c.webp

Aku melihat ada bekas api unggun disini, yang seharusnya gaboleh ya. Mendirikan tenda disini juga dilarang, aku gatau kenapa padahal tempatnya cukup ideal. Di dalam goa juga ada air tetesan yang mungkin agak keruh tapi bisa jadi alternatif sumber air dalam keadaan darurat. Yang pasti harus kamu saring atau masak dulu.

/posts/pendakian-ciremai/featured-image-55_hu_3d638a4ee6421983.webp

Turunan Jagal

Sekitar pukul 10.30 aku berhasil sampai di Pos 5 camp, untuk saat ini semua berjalan lancar. Semua tantangan udah aku alami, meskipun berat -semuanya berhasil lewati. Tapi tantangan sebenarnya baru akan dimulai. Selesai membereskan peralatan dan tenda, aku bergerak turun menuju dari Pos 5. Pos 4 dan 3 aku lewati dengan mudah, ketika hujan turun di perjalanan menuju Pos 2, semuanya terbalik menjadi pengalaman terberatku dalam mendaki gunung bahkan sampai sekarang.

Banyak banget faktor yang waktu itu berkontribusi, dari tas yang terlalu berat meskipun sudah kosong dengan air, atau keputusanku untuk meremehkan pentingnya trekking pole.

Yang kurasain adalah kaki yang bener-bener hancur, lemas, susah untuk jalan. Energi bener-bener habis, pendaki yang turun belakangan bahkan banyak yang menyalipku. Ketika jalan 30 meter kemudian tubuhku berteriak untuk segera duduk lagi, aku tau ada yang salah. Aku tahu Pos Pendaftaran sudah begitu dekat, jalan sudah terlihat lebar, tapi kenapa masih terasa jauh sekali? Aku duduk bersimpuh dibawah gerimis dingin, aku beruntung jas hujan ku yang kemarin masih aku simpan.

Menengadah, jalur makin sepi, banyak rombongan yang sudah lewat dan tak terlihat. Jam menunjukkan angka 02.30. Sekalipun aku memaksa kaki untuk bergerak, seperti ada tambang dan jarum yang melilitnya. Setiap senti-nya begitu sakit, dan aku masih mengingatnya dengan jelas. Apa cuman sampai disini batasku?

Revolusi Berpikir

Dari Ceremai aku belajar, bahwa aku gabisa membawa beban berat, bahwa aku gabisa membeli peralatan yang setengah-setengah. Dari situ aku tau betapa penting trekking pole. Dari situ aku ngebentuk mental ku yang sesungguhnya. Aku memang udah melakukan berbagai persiapan, nonton video, mempelajari jalur, tapi aku bener-bener mengabaikan pentingnya batas beban. Orang bodoh mana yang membawa tenda kapasitas dua orang untuk solo? Orang bodoh mana yang ga mau bawa beras tapi malah membawa berbungkus bubur yang satunya aja punya berat 250 gram? Orang bodoh mana yang membawa 4 botol besar dan ekstra 2 botol lain untuk pendakian singkat dan solo? Air memang penting, tapi memperhitungkan kebutuhan secara akurat bisa nentuin kesuksesan tiap pendakian.

Setelah Ceremai, di 12 gunung berikutnya, aku bener-bener merubah cara berpikirku. Ceremai bagiku adalah titik balik, dia adalah guru yang menamparku bahwa pengetahuan dan pengalaman, serta kemauan untuk mengkoreksi diri sendiri adalah guru terbaik.